Prologue
Proofread by Mery RiansyahNyai terjebak di persimpangan, di antara lelaki yang dicintainya, Ardy, dan lelaki yang mencintainya, Mark Buchholz. Takdir menuntunnya bertualang hingga ke Duesseldorf, Jerman, dan mendapati dirinya terperangkap di tengah ritual birahi La Costra Nostra, yang mistis dan misterius.Gadis jelita dari perbukitan Ciwidey itu mencoba bertahan, demi Akang yang dicintainya dan sekolah miliknya—yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak tak mampu. Nyawapun dipertaruhkan olehnya.Inilah novel yang membabar romansa gadis pemetik teh dengan balutan bahasa yang liris dan ketegangan yang menyenangkan. Pembaca seakan diajak masuk ke ritual ganjil yang sangat misterius, persahabatan yang tak lazim, perseteruan antara yang menindas dan yang ditindas, pun pertarungan nafsu dan cinta.“Nyai Duesseldorf ditulis Zeventina berdasarkan riset serta penuangan pengalaman yang pernah benar-benar ia alami di Ciwidey dan Duesseldorf. Kekuatan riset dan pengalaman itu, misalnya terlihat pada pendalaman karakter tokoh-tokohnya. Meski dideskripsikan dengan narasi yang panjang, mereka seolah benar-benar sedang hidup bersama kita. Zeventina rupanya belajar benar, bahwa kelemahan karya-karya fiksi kita sekarang, ini pada soal kemalasan melakukan riset. Novel ini menyodorkan satu mekanisme kerja yang bisa menjadi model bagi penulisan-penulisan fiksi berikutn."Putu Fajar Arcana, Editor Fiksi Kompas Minggu “Perseteruan antara anak dan ibu merupakan akar yang membesarkan pohon (kisah) percintaan yang penuh dengan kekerasan ini. Zeventina tidak memberikan konteks sosial, kultural, apalagi ekonomi dan politik yang cukup untuk menghidupkan kisah cinta Ardy dan Nyai. Tetapi ketika sampai pertengahan novel ini, saya mendadak ingin memanggil Kahlil Gibran untuk ikut membacanya. Dan seandainya Gibran datang, saya ingin katakan: Betul hidup kalah oleh kematian, dan kematian kalah oleh cinta. Tetapi yang tak boleh kita lupakan, siapa dan berapa bayaran yang harus dikorbankan?Dalam kisah ini, saya khawatir seorang perempuan dari Ciwidey telah membayar terlalu mahal untuk cinta itu, sehingga maut pun tampak miskin di hadapannya. Secara singkat, kita bisa menyimpulkan bahwa kehidupan Nyai merupakan ujian untuk kemanusiaan. Satu persatu, kita diundang untuk menilai, apakah kemenangan cinta itu tidak harus berdiri di atas keadilan?”Eka Budianta, budayawan, dewan pakar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia “Novel Nyai Duesseldorf adalah sebuah ironi yang begitu nyata dan dekat dengan kehidupan kita. Terlebih Zeventina sangat piawai mendeskripsikan dan menyelaraskan emosi dan situasional. Imajinasi kita serasa di ombang-ambingkan pada ruang tak berbatas, dan tanpa kita sadari tokoh-tokohnya serasa hidup di dalam diri kita atau malah mungkin kitalah pemeran dalam tokoh-tokoh yang di gambarkannya.” Rani Badri Kalianda, Creative & Art Director I Facilitator The Soul of Speaking “Lirik lagu “Hanya Untukmu”, yang dijadikan soundtrack novel ini sangat kuat dan penuh makna. Dibalut vocal yang khas, menjadikan lagu-lagu di album ini pantas didengar dan dipuji. Bagus!” Erie Prasetyo, Manajer Erdian Anji dan Olla Ramlan
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse varius enim in eros elementum tristique. Duis cursus, mi quis viverra ornare, eros dolor interdum nulla, ut commodo diam libero vitae erat. Aenean faucibus nibh et justo cursus id rutrum lorem imperdiet. Nunc ut sem vitae risus tristique posuere.
Vivamus suscipit tortor eget felis porttitor volutpat. Curabitur arcu erat, accumsan id imperdiet et, porttitor at sem. Vestibulum ac diam sit amet quam vehicula elementum sed sit amet dui. Donec rutrum congue leo eget malesuada.
Pellentesque in ipsum id orci porta dapibus. Sed porttitor lectus nibh. Nulla quis lorem ut libero malesuada feugiat. Mauris blandit aliquet elit, eget tincidunt nibh pulvinar a. Donec rutrum congue leo eget malesuada.
Read the Full Book
Register for a free membership to continue reading Nyai Duesseldorf and gain unlimited access to our entire library.
Continue Reading
Secure & Ad-Free Experience