Description: Pasca pidato kenegaraan Presiden Soeharto di depan Sidang DPR tanggal 16 Agustus 1982, PP Muhammadiyah menunggu langkah lanjut pemerintah, apakah asas tunggal hanya diberlakukan khusus untuk partai politik, atau juga diberlakukan untuk ormas keagamaan. Pimpinan Muhammadiyah terkesan berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataannya, terutama yang berhubungan dengan asas tunggal. Adalah Malik Ahmad, salah seorang pimpinan Muhammadiyah yang lantang menolak asas tunggal Pancasila.Malik Ahmad mengambil langkah berseberangan dengan sikap kepemimpinan Muhamamdiyah yang kolektif kolegial. Ia tidak bergerak sendirian. A.M Fatwa dan H.M Sanusi yang kemudian dituduh terlibat dalam kasus Tanjung Priok dan Peledakan Bank BCA merupakan orang-orang yang senantiasa aktif mengikuti kuliah-kuliah tauhidnya. Dalam setiap penga-jiannya di Menteng Raya Jakarta Pusat, Malik Ahmad selalu menekankan pentingnya sikap seorang muslim mempertahankan nilai-nilai tauhidnya. Malik Ahmad menandaskan, Pancasila pada masa Orde Baru telah berubah wujudnya menjadi sebuah agama baru, dalam istilahnya dinamakan Dinul Malik. Pancasila yang dulunya di-pahami sebagai konsensus politik antara pihak nasionalis Islam dan nasionalis sekuler, pada masa Orde Baru berubah menjadi sumber pegangan hidup, sumber moral, sumber pemikiran, dan sumber dari segala sumber hukum. Indoktrinasi tunggal melalui penataran P4, hakikatnya merupakan langkah pemerintah menjadikan Pancasila sebagai pseudo agama (agama semu). Malik Ahmad pun mengeluarkan ijtihad , haram hukumnya menerima asas tunggal Pancasila. Dalam setiap rapat internal, Malik Ahmad gigih mempertahankan asas Islam sebagai ciri khusus Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah harus mempertahankan diri dari hal-hal yang membahayakan ajarannya. Jika Muhammadiyah menerima asas tunggal, kosekuensinya harus membubarkan diri, karena asas Muhammadiyah hanyalah Islam.Berbeda dengan Malik Ahmad, A.R Fakhruddin lebih netral dalam menanggapi asas tunggal Pancasila. Meski cenderung sepaham dengan Malik Ahmad, namun ia harus memosisikan dirinya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah yang intens berkomunikasi dengan pemerintah. Kata-katanya yang bijak dengan mengistilahkan menerima asas tunggal sama dengan aturan memakai helm, mampu meredam konflik antara kelompok pro dan kontra asas tunggal. Meskipun kalah dalam forum sidang pleno muktamar tanggal 11 Desember 1985, usulannya tentang penjelasan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa diartikan sebagai keimanan kepada Allah swt diterima secara aklamasi oleh muktamirin. Si-dang pleno akhirnya menyetujui Pancasila masuk dalam AD Muhammadiyah, dan Malik Ahmad menghormati putusan itu. Akibat sikap penolakannya, Malik Ahmad seakan terpinggirkan dalam sejarah Muhammadiyah. Pandangannya yang berseberangan dengan sikap kolektif kolegial persyrikatan, pada akhirnya meminggirkan Malik Ahmad yang progresif. Bahkan label “pembangkang” seakan melekat dalam pribadinya yang teguh dalam memegang prinsip. Temarginalnya pikiran progresif Malik Ahmad ini mengindikasikan pola gerakan dakwah Muhammadiyah yang mengutamakan amar ma’ruf nahi munkar mulai memudar. Pada masa sekarang, pimpinan Muhammadiyah cenderung hanya fokus membesarkan amal usaha, tanpa adanya usaha revitalisasi makna pembaruan yang melekat di Muhammadiyah. We have made it easy for you to find a PDF Ebooks without any digging. And by having access to our ebooks online or by storing it on your computer, you have convenient answers. To get started finding Sang Penjaga Tauhid: Studi Protes terhadap Tirani Kekuasaan 1982-1985, you are right to find our website which has a comprehensive collection of manuals listed. Our library is the biggest of these that have literally hundreds of thousands of different products represented.
Show morePage
207
Format
Paperback
Published
2014
Publisher
Deepublish Publisher
Language
ind
Original Title
N/A